Nobody wants to be hated by everyone.
But me, since I did everything by the sound of my heart, I am being hateable.
So, what is the point of "listen to your heart"?
Showing posts with label Speak UP. Show all posts
Showing posts with label Speak UP. Show all posts
December 16, 2015
August 24, 2015
Mindahin Kampung Pulo
Sumber
gambar: http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/961679/big/047913600_1440075764-Kampung_Pulo.jpg
Beberapa waktu
lalu lagi heboh masalah penggusuran kampung pulo di bantaran sungai ciliwung.
Terjadi kisruh antara warga dengan satpol PP yang saat itu sedang persiapan buat
melakukan penggusuran dengan beberapa alat berat. Hingga terjadi pembakaran 1
buah alat berat oleh warga setempat karena mereka menolak adanya penggusuran.
Well, mari aku mencoba menelaah.
Sejujurnya aku ga suka dengan
kata penggusuran. Penggusuran itu ga manusiawi, kasar. Mari kita pakai kata
relokasi supaya lebih enak ya didengar.
Ehm, merelokasi warga dari suatu
tempat tidak hanya pemindahan secara fisik warganya dan tempat tinggalnya.
Tetapi memindahkan aspek2 sosial kemasyarakatan yang sudah tumbuh dan terjalin
sekian puluh tahun.
Kenapa sih harus mindahin warga kampung pulo dari bantaran sungai ke
rusun jatinegara?
Satu hal yang pasti kawasan tersebut
merupakan kawasan yang sebenarnya tidak boleh digunakan untuk permukiman. Kawasan
bantaran sungai merupakan kawasan yang tidak boleh dijadikan permukiman. Setiap
hujan, kawasan tersebut selalu terkena dampak banjir. Sehingga permukiman warga
yang sudah terlanjur disitu, perlu dipindahkan supaya masyarakat bisa hidup
lebih baik.
Apa sih yang salah sama relokasi kemaren?
Kurangnya Komunikasi antar
pemerintah dan warga! Kenapa? Komunikasi itu penting dalam melakukan intervensi
dan melakukan persuasif pada warga supaya mau pindah. Memang butuh waktu yang
lama untuk mencapai tujuan dengan cara komunikasi dengan warga. Tetapi cara ini
adalah cara paling baik dalam kaitannya memindahkan warga. Warga mengaku tidak
ada komunikasi, ada juga yang mengaku komunikasi belum tuntas yang dilakukan
pemerintah dengan warga. Pemerintah dinilai tergesa-gesa. Kenapa sih? Apa
karena kurang SDM? Jakarta seperti kita ketahui, memiliki banyak SDM yang
pintar2. Banyak kampus2 negri dan swasta yang bergengsi dan memiliki mahasiswa
yang bisa bantuin melakukan pendampingan pada warga kp pulo.
Apa sih yang salah dengan rusunawa jatinegara yang udah dibangun?
Tidak ada yang salah dengan rusun
tersebut. Hanya saja jenis perumahan dengan bentuk vertikal masih sangat sukar
diterima masyarakat indonesia yang terbiasa hidup di landed house. Warga
kampung pulo yang sudah terbiasa hidup dengan guyub, merasa ga bisa buat hidup
bersosialisasi dengan warga lain kalo mereka tinggal di rusun. Meski rusun
sudah sangat canggih dan mewah dibangun untuk mereka. Kebiasaan2 informal yang
sering mereka lakukan di kampung ga bisa mereka lakukan kembali. Warga yang
memiliki mata pencaharian informal seperti berdagang, beternak dan lain
sebagainya mengalami kesulitan jika mereka harus pindah ke rusun. Harga sewa
rusun per KK pun dirasa membebani warga kampung pulo, meskipun menurut aku
harga sewa tersebut sudah termasuk murah. Engga mau bandingin sih, Cuma standar
300ribu itu jelas berbeda antara warga yang satu dengan yang lain. Saat masih
di bantaran, 1 rumah biasanya dihuni 2-3 KK. Istilahnya buat hidup aja mesti
bareng-2 karena keterbatasan biaya, eh sekarang harus tinggal sendiri dan bayar
dengan sekian harga sewa, meskipun 3 bulan pertama katanya gratis.
Well, yang namanya hidup kita perlu mengeluarkan biaya. Biaya untuk
tempat tinggal, makan, serta pakaian *kebutuhan primer manusia buat hidup at least*. Menurutku kalo warga
mengeluhkan biaya, aduh tolong banget laahh. Hidup di jakarta itu emang apa2
butuh uang. Ya harus berusaha harus bekerja. Tolong jangan jadi warga yang
manja. Menjadi orang kecil memang harus diayomi, tapi bukan berati harus ga
berusaha memenuhi kebutuhan dengan semaksimalnya usaha dong. Dan pemerintah
punya kewajiban mengakomodasi keterbatasan masyarakat menengah ke bawah
tersebut. Jangan Cuma ngayomin masyarakat yang mampu aja. Kasih mereka
kemudahan bayar, kasih mereka akses buat dapet pekerjaan yang layak, kasih mereka
kesempatan mengembangkan kemampuan informal mereka.
Apa yang salah dengan kasus-kasus warga yang sudah menghuni bantaran
sungai dan kawasan-kawasan terlarang lainnya?
Warga yang sudah menghuni
kawasan-kawasan terlarang di jakarta selama puluhan tahun, menurutku adalah
kesalahan pemerintah sebelumnya. Mereka menjadi korban politik yang
dimanfaatkan sebagai pendukung saat pemilu dengan kompensasi mereka
diperbolehkan tinggal di tempat tersebut. Pemerintah sekarang sedang melakukan
perbaikan dengan mengerik karat yang sudah ditimbun sejak pemerintah
sebelumnya.
Kenapa sih warga kampung pulo ga dibiarin aja di bantaran sungai? Kan
banyak tuh contoh2 kawasan permukiman yang tetep survive di bantaran sungai
gausah relokasi?
Karena kawasan kp pulo itu
bentuknya cekungan. Kalo kita mau nyamain dengan tempat lain ga bisa samain gtu
aja. Aspek2 seperti kondisi fisik alam, sosial budaya dan sebagainya berbeda.
Terlebih kondisi masyarakat dan pemerintahnya. Jadi kita ga bisa nyamain dan
mengaplikasikan semua bentuk contoh berhasil. Perlu disaring.
Lalu, apa dong yang harus dilakukan pemerintah saat ini?
Bangunlah permukiman di rusun.
Permukiman dalam artian akses-akses menuju fasilitas umum dan sosial yang
dibutuhkan oleh warga. Hilangkan ketakutan warga akan rusun yang selalu
terkesan individualis. Emang susah sih ngerubah form informal ke bentuk formal
dengan tetap membawa sifat-sifat keinformalannya. Tap aku yakin, warga dimana
pun berada bakalan bisa beradaptasi di lingkungan barunya,
Well, dalam sebuah perubahan
menuju lebih baik memang perlu ada yang harus dikorbankan. Tetapi pengorbanan
tersebut sebisa mungkin harus meminimalisir sakit. Buat sembuh butuh
pengobatan. Tapi carilah pengobatan yang paling minim rasa sakit yang
dirasakan.
Selamat membangun jakarta lebih
baik!
Salam,
-Resti yang tidak tidak tau akan bertakdir di Jakarta atau tidak_
*semua tulisan ini merupakan hasil membaca artikel dan menonton tayangan televisi dan argumen pribadi*
May 12, 2015
Dewasa 3.0
Grow up and raising the empire of
ourself adalah part yang mungkin dilalui manusia-manusia biasa kaya aku dan
beberapa teman lain. Bukan manusia-manusia yang emang udah semuanya ada. Kerja
sebagai freelancer, serabutan sana-sini, makan tak tentu, rem pengeluaran ga
penting, was-was dengan tanggal tua dan tanggal harus bayar kos, harus bisa
nabung buat masa depan, how could these things come up after we graduate?
Yeah, we mean yang kerjanya masih
serabutan kaya aku. Bukan yang langsung settle dengan kerjaan yang semua sudah
fix. Yang selalu deg-degan besok bisa makan apa ga. Yang selalu deg-degan gaji
bakal turun tepat waktu atau dirapel, yang selalu deg-degan buat daftar
lagi-lagi dan lagi ke tempat kerja yang lain.
Terkadang merasa menjadi manusia
paling kasihan dan sial sedunia dengan kondisi seperti ini. Tetapi jika
bertukar cerita dengan teman lain, sungguh apa yang terjadi pada kita adalah
hal yang patut disyukuri. Terkadang teman bahkan menceritakan keadaannya yang
lebih parah dari kita. Kadang ada juga yang lebih baik dan kita perlu bisa
bertahan seperti itu.
Menghadapi dunia ini ga
memerlukan keabsahan ijasah universitas, tingginya IPK, skor TOEFL dan tentu
saja siapa orang tua kamu. Yang diperlukan adalah ketahanan mental, jiwa dan
raga. Dunia di masa ini sedang keras-kerasnya. Kalau begitu, jadilah keras,
jangan lembek. Hidup tidak sebercanda itu.
Lalu tidak penting sepertinya
semua ini menjadi buruk. Terlalu lama menangis dalam bantal yang semestinya
kita pakai untuk tidur. Saatnya bangun dari kasur, mencoba jalan kembali, dan
percayalah kita masih bisa bangun lagi saat jatuh. Pain is our friend, wound
never kills us, and be brave is us!
Dewasa 2.0
Setelah lulus kuliah, rasanya
yang kita incar adalah bagaimana mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan
jurusan kita. Well, meskipun banyak juga lowongan yang emmang membuka untuk
semua jurusan. Tapi , dari situ harusnya kita memiliki pandangan bahwa
perusahaan tersebut hanyalah memperbesar kemungkinan mereka untuk mendapatkan
pegawai. Tentunya yang akan diterima adalah teman-teman dari jurusan yang lebih
nyambung dengan posisi tersebut.
Bekerja merupakan sebuah usaha
untuk mendapatkan uang dan melanjutkan hidup. Lulus dari sebuah universitas
mentereng merupakan sebuah background kita untuk segera mendapat pekerjaan di
tempat yang keren. Ya iyalah, coba kalo sekolah dari masuknya aja susah, saingan
banyak. Kuliah susah, dosennya pinter-pinter. Lulusnya susah, ambil tema skripsi
susah. Masa lulus Cuma kerja jadi begituan, disitu lagi. Apa kata dunia? Kita
lupa kalo dunia itu bisu, yang bisa komen Cuma orang-orang yang ada di dunia
ini yang ga ikut ujian masuk kuliah, susahnya bertahan kuliah, dan susahnya
keluar dan dapet gelar.
Tetapi nasib manusia tidak sama.
Tuhan terlalu kreatif buat menyamakan semua takdir kita. Tuhan Maha Kreatif.
Adalah sebuah cerita yang teramat biasa dengan premis yang pasti, bahwa yang
rajin dan pintar akan masuk tempat kerja yang keren. Iya itu memang ada, tetapi
bukan hidup namanya kalo terlalu selow tanpa kejutan. Terkadang yang disaat
kuliah jarang masuk, nilai pas-pasan, kegiatan organisasi aja engga ikut, pas
lulus udah dapet kerja duluan. Beda lagi sama yang berpikiran bahwa yang
penting kerja apa saja, ternyata bisa ketrima di tempat kerja yang jadi impian
anak-anak yang sudah mempersiapkan dia akan masuk tempat tersebut jauh-jauh
hari. Mungkin yang paling ngenes adalah yang sudah berusaha buat memaksimalkan
akademiknya dan berjuang mati-matian di setiap jobfair tetapi masih saja belum
beruntung.
Manusia punya banyak jatah gagal
dan perlu dihabiskan saat ini juga. Ini adalah kalimat yang cukup mendukung aku
dan teman-teman yang gagal bahwa kegagalan yang berkali-kali akan musnah dan
tergantikan sebuah keberhasilan jika nanti saatnya tiba. Kita harus percaya
itu, Tuhan tidak tidur dan Maha Mendengar. Semua orang memiliki waktunya
masing-masing, kita tidak tau kapan waktu kita untuk bisa mendapatkan pekerjaan
yang tepat dan layak bagi penghidupan kemanusiaan. Yeah aku lebay. Then, what?!
I don’t give a damn anymore. All I have to do is always do my best, think with
my brain and pray.
Dewasa 1.0
Menjadi dewasa adalah menjadi
manusia dengan kelebihan memiliki masalah lebih berat. Salah ketika masih kecil
berandai-andai dewasa. Dulu berpikir bahwa orang dewasa adalah keren, bisa naik kendaraan sendiri,
dandan, pake heels, pake baju dewasa, keluar sampe malam, kencan, bisa tidur
larut malam, nonton film-film dewasa…seperti itu rasanya mudahnya.
Yeah, menjadi dewasa adalah
amazing. Bisa melakukan semua hal yang dilakukan orang dewasa. Tetapi, pada
nyatanya transisi dari remaja menuju dewasa tidak banyak disadari oleh kita.
Keterkejutan datang ketika tiba-tiba kita merayakan ulang tahun ke 25 misalnya.
Masih single, jobless, setiap bulan masih meminta orang tua mengirimi uang ke
ATM. Padahal seharusnya ga seperti itu. Yang ada pada bayangan kita saat kecil,
usia 25 adalah usia emas yang akan ditunggu-tunggu. Seperti usia 17 tahun.
Bayanganku usia 25 adalah usia dimana sudah memutuskan akan menikah dengan
siapa karena sudah menemukan tambatan hati, punya kerjaan mapan, tabungan
berdijit banyak, lanjut sekolah luar negeri, punya kendaraan sendiri, punya
uang sendiri, punya rumah….. Oke then, aku bukan pegawe minyak.
Kenyataan terkadang menyadarkan
kita pelan-pelan. Tanpa kita sadari waktu yang sudah kita lewati terbuang
secara percuma. Kita lupa target yang pernah kita bayangkan. Tiba-tiba saja
sudah selama ini kita hidup. Terlalu lengah dan terlalu jengah. Saat sekolah
kita tak diajarkan cara menjadi dewasa dengan benar. Hingga saat ini aku merasa
aku hanyalah seorang anak-anak yang terperangkap dalam sebuah tubuh perempuan
dewasa. Yang seharusnya sudah memahami bahwa jiwa ini bukan jiwa anak-anak
lagi, sudah seharusnya jiwa ini menjadi jiwa dewasa dengan pemikiran dewasa dan
perilaku dewasa.
Sekolah tidak perlu disalahkan.
Sekolah di Indonesia hanyalah lembaga formal yang mengarahkan akademik
siswa-siswanya. Lulus, nilai bagus, masuk PTN favorit, lulus, kerja di tempat
bagus, mapan, kaya, hidup enak, keluarga bahagia, mati masuk surga. Sesimpel
itu pikiran kita ketika kita memilih sekolah bukan?
Well, jangan heran jika setelah
lulus yang kita pikirkan adalah bekerja pada sebuah lembaga besar, menjadi
buruh berdasi yang bekerja setengah mati, 24/7, digaji untuk membayar tagihan
ini itu. Di tengah hiruk pikuk keadaan negara ini yang hanya ada satu di dunia,
modal kita yang masih bisa diandalkan hanyalah sumber daya manusia. Kita tahu
bahwa sumber daya alam kita sudah hamper tidak bisa kita harapkan. Asing telah
keluar masuk dengan mudah dan menguasai banyak bidang-bidang penting. Sumber
daya manusia negara ini mestinya menjadi pokok utama yang harus dibenahi. Ah
sudahlah, bercurhat seperti ini bukan hal yang baik jika hanya ngetik, no
action. I even don’t know how to start! As an amateur writer, I am still dumb
to face my maturity.
May 7, 2015
Sangat Indonesia
sumber: http://www.clear.co.id/resources/images/base/legenda-arsenal-masyarakat-indonesia-cinta-sepakbola-7b1a271.jpg
Tergelitik setelah membaca
tulisan dari kenalan teman lewat sebuah artikel dalam blognya, lahirlah tulisan
ini di detik-detik terakhir sebelum pulang ke rumah.
Kebetulan juga, baru saja aku
membeli sebuah buku dengan judul “Kota – Kota di Jawa, identitas, gaya hidup
dan permasalahan social”. Buku ini aku beli karena pada salah satu babnya
mengulas tentang Banyumas. Sangat sulit bagi ku untuk menemukan buku atau artikel
mengenai time period yng pernah terjadi di Banyumas dari segi social dan
kemasyarakatan terutama di masa lampau.
Pada kata pengantar buku
tersebut, dituliskan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi di kota-kota
terutama di Jawa. Perubahan-perubahan tersebut terjadi karena adanya modernitas
yang mengganti identitas kota tersebut dari yang lama menjadi yang baru. Modernitas
menuntut masyarakat untuk bergaya hidup lebih urban dan modern. Budaya, gaya
berpakaian, struktur social kemudian berubah. Lalu hubungannya dengan
perkotaan? Tentu saja berhubungan. Kota merupakan sebuah bentuk pengejawantahan
budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Sehingga tercipta karya-karya visual
maupun non-visual.
Ada kebanggaan tersendiri ketika
membaca sejarah perkotaan. Perubahan-perubahan yang mereka alami dari waktu ke
waktu sedemikian pelik dan berliku. Tak ayal jika kota menjadi sebuah bukti
peradaban masyarakat yang mendiaminya.
Indonesia memiliki karakter2 yang
unik dan berbeda dengan kota-kota di barat. Karena apa? Budaya yang kita miliki
merupakan budaya timur yang menjunjung tinggi kesopanan, tata krama serta budi
pekerti yang luhur. Bangga ketika membaca sejarah nusantara yang
mengagung-agungkan kisah pahlawan dengan gagah berani melawan penjajah dengan
taktik cerdas. Selain itu, masyarakat Indonesia juga merupakan masyarakat
beragama yang mengakui Tuhan. Seperti yang tertuang dalam sila 1 pancasila dan
diakuinya 6 kepercayaan di Indonesia. Agama sebagai penuntun kehidupan manusia
baik dunia maupun akhirat pasti mengajarkan kebaikan, entah agama langit atau
agama bumi. Sama saja.
Aku yakin jika identitas dan
prinsip ini tetap dijaga teguh oleh kita semua saat ini, yakin deh yang namanya
korupsi, narkoba, perselingkuhan, perceraian, dan hal-hal tidak pantas lainnya
tidak perlu terjadi dan menjadi headline utama di setiap surat kabar.
Entah bagaimana ceritanya, kita,
bangsa Indonesia saat ini memiliki identitas yang rendah. Suka telat (tidak
tepat waktu), bermuka dua, tidak jujur, korupsi, penjilat, serba instan…rasanya
sudah akrab di telinga kita.
Ingat saat di sebuah MRT di
Singapura tahun 2011 lalu saat sedang berdiri dan beberapa teman bercakap-cakap
karena amaze dengan MRTnya , kemudian ada citizen SG yang tertawa mengejek
sambil berkata “Indonesian” seraya keep away from us. Takut tertular virus
ndeso dan kampungan.
Pun saat angkatan kami memutuskan
untuk melakukan study banding ke Singapura, seorang dosen kami berkata “Turis
Singapura itu kebanyakan orang Indonesia, sampe sana mereka mainnya ke mall.”
Belum lagi saat di Jerman. Secara
fisik Indonesian memiliki fisik lbh kecil dari orang jerman, dlam berjalan pun
kami terbiasa santai. Suatu saat Lucy, guide kami berkata “Kenapa kalian
berjalan sangat lambat dan selalu ketinggalan?” yeah, karena habit kami ga
terbiasa jalan tergopoh2….masyarakat Jawa terutama menjunjung tinggi peribahasa
“alon-alon asal kelakon”, pelan-pelan asal kesampean.
Iya Indonesia…..sangat Indonesia
ya seperti ini. Perilaku kita ini kemudian berdampak pada fisik kota kita.
Korupsi misalnya, anggaran untuk memperbaiki infrastruktur tidak maksimal,
material pun menggunakan kualitas rendah. Lalu apa kabar?
Teringat tulisan seorang teman
tersebut, maka aku sedikit “Iya, aku juga salah dalam mengambil kesimpulan.
Luar negeri memang bagus. Kebagusan mereka bukan hanya didukung oleh
kecerdasan, peradaban yang sudah lebih maju, desain yang bagus, teknologi
canggih….tetapi juga manner manusia nya.”
Meributkan identitas kota?
Pahamilah diri sendiri dulu, identitas kita macam apa. Apakah sebagai orang
modern kita sudah ebrsikap sebagai manusia modern? Atau masih tetap dengan
kebiasaan lama kita? Bahkan menurutku karakter manusia jaman dahulu yang masih
mementingkan adat ketimuran, masih memiliki prinsip yang teguh dalam
keterombang ambingan di jaman modern. Ah sudahlah, akubukan antropolog. Tulisan
ini hanya opini, tidak dilandasi data yang akurat dan nyata dari lapangan.
Sebagian hanya asumsi belaka.
Jadi bagaimana? Sangat Indonesia
yang bagaimana yang perlu diperhatikan?
Resti
Masih Indonesia
March 3, 2015
Jogja (Tidak) Berbeda
Romantisme lirik lagu Yogyakarta
yang ditembangkan Kla Project era 90an, mungkin menjadi salah satu sountrack bagi orang-orang yang pernah
datang bahkan menetap di Jogja. Susunan lirik yang apik dan manis termaktub dalam
satu rangkaian syair dan nada yang mengajak pendengarnya larut dalam suasana
Kota Jogja. Suasana kota yang bersahaja dan ngangeni.
Dikhaskan dengan pedagang kaki lima yang menjajakan jajanan tradisional dan
musisi jalanan yang mengiringi PKL
tersebut menggelar dagangannya.
Kla Project tidak salah dalam
menggambarkan kota Jogja. Suasana Jogja saat itu adalah suasana Jogja tahun
90an. Saat Jogja masih belum tumbuh dan berkembang seperti saat ini. Belum ada
mall, belum banyak hotel, belum macet, belum banyak sampah dan tentu belum sering
banjir.
Sebuah kota memang bisa
menghadirkan suasana tertentu bagi penghuni dan orang yang datang. Suasana
tersebut dihasilkan oleh jati diri dan identitas kota sehingga menghasilkan
rasa yang khas dan berbeda dengan kota lain. Suasana merupakan salah satu hal
yang dapat dinikmati secara langsung oleh penghuninya. Orang bisa menilai Jogja
bersahaja dan nyaman, karena suasana yang ada memberikan perasaan tersebut. Kota
Yogyakarta yang masih kental dengan budaya Jawa, Salah satu destinasi
pariwisata, kota pelajar, serta masih adanya bangunan bersejarah mendukung Jogja menghadirkan suasana bersahaja
dan nyaman.
Saat ini, Jogja berkembang dengan
pesat mengikuti arus bergulirnya jaman, menjadi lebih modern dari waktu ke
waktu. Darimana kita bisa menilai modernitasnya? Mungkin dengan mudah kita akan
menjawab dengan banyaknya bangunan tinggi, hotel, mall, jumlah kendaraan bermotor, restoran cepat saji, serta
menjamurnya frenchaise swalayan
modern.
Sudah tidak sulit menemukan
tempat menginap dengan fasilitas mewah, outlet pakaian dengan brand internasional, bahkan produk
makanan atau keperluan sehari hari brand luar negeri sudah sangat mudah
dijangkau di Jogja.
Berproses menjadi modern bukan
sebuah kesalahan. Sebuah kota layaknya manusia juga tumbuh, berkembang dan
berubah. Tetapi kota adalah sebuah tempat yang memberikan suasana pada
penghuninya. Ketika dia berproses menjadi modern dan berkiblat pada kota-kota
pendahulunya, apa bedanya kemudian kota
tersebut dengan kota pendahulunya? Bukankah boleh berubah, tetapi sebaiknya
tetap menjadi Jogja yang bersahaja dan nyaman? Tidak perlu berandai menjadi
Jakarta bahkan Singapura.
Sekarang, coba capailah bangunan
paling tinggi di sekitarmu (bisa mencoba dengan gedung perpustakaan pusat UGM
lantai 5), kemudian amati gedung-gedung tinggi apa saja yang kamu ketahui.
Mungkin saat ini kamu bisa menyebutkannya satu persatu, karena kamu tau itu
bangunan apa dan lokasinya dimana. Mungkin beberapa tahun kemudian saat kamu
berada di tempat yang sama dan mencoba menebak bangunan apa saja, kamu tidak
bisa yakin. Karena bisa jadi hampir semua bangunan sudah memiliki tinggi yang
sama. Keindahan Merapi hanya bisa dilihat melalui gardu pandang saja, bukan
dari jendela kamar kosmu lagi.
Jogja sudah tidak berbeda dengan
kota-kota besar lainnya. Modernitas latah yang tidak memperhatikan kesahajaan
dan kenyamanan bercampur aduk dengan bangunan-bangunan tanpa identitas
tersebut. Modernitas merupakan hal yang perlu diawasi dan dikontrol. Karena
tidak semua hal berbau modernitas adalah baik. Gaya arsitektur bangunan modern
minimalis -yang saat ini banyak diadopsi bangunan-bangunan baru di Jogja- pun
sebenarnya sudah diakui para arsitek sebagai bangunan yang tidak memberikan
ciri identitas. Ciri khas tidak bisa hanya dihadirkan dalam sebuah brand nama
saja -mengusung nama Jogja, heritage, traditional-, suasana hadir karena adanya
tampilan fisik.
Mungkin akan hadir suatu masa
dimana berjalan-jalan di Jogja seperti berjalan-jalan di Jakarta. Bahkan saat
ini Jogja sudah mencicilnya dengan macet, banjir, serta sampah. Tipikal kota
berkembang yang seharusnya sudah diwaspadai pemerintah supaya bisa lebih ketat
mengontrol dan mengawasi pembangunan.
Jogja tidak berbeda. Tidak
berbeda dengan kota-kota besar lainnya. Hanya menunggu waktu untuknya, kembali
atau meninggalkan identitasnya.
Nur Restiani Setyaningrum
Penulis adalah alumni Teknik PWK
UGM angkatan 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
Masuk Sekolah
Assalamualaykum teman-teman blog! Sudah lama sekali ga menyapa lewat blog, alasan klasik tolong diterima ya. ...
-
Kemarin tepatnya hari kamis 14 April 2016 aku main ke Shinkenjuku. FYI, shinkenjuku adalah bimbel matematika yang mengusung tujuan supaya a...
-
Assalamualaykum teman-teman blog! Sudah lama sekali ga menyapa lewat blog, alasan klasik tolong diterima ya. ...

